Skip to content
March 8, 2010 / fian

perayaan perempuan yang ke-seratus

Seratus tahun perayaan perempuan internasional tepat pada tanggal 8 Maret 2010 ini. Saya ucapkan selamat pada perempuan-perempuan di dunia, congratulations! Hari ini ada untuk kalian semua (perempuan), bukan untuk para pria.

setara

Di Jogjakarta, hari perempuan internasional ini dirayakan dengan berbagai macam cara. Di sebuah tempat, para seniman, pemusik, penyair, penulis, dan lain sebagainya menggelar sebuah acara pembacaan puisi. Namun di tempat lain, perempuan-perempuan turun ke jalan untuk menggelar aksi, bahwa tuntutan mereka tentang kesetaraan selama 100 tahun terakhir belum dipenuhi. Bahwa banyak peraturan yang merugikan mereka, dsb, dsb.

Saya terlahir sebagai perempuan. Bahkan perempuan jaman sekarang, yang bisa selalu menggunakan celana seperti laki-laki. Mendengar kisah-kisah perempuan masa lalu, misalnya saja R.A Kartini, perempuan terkungkung oleh budaya yang patriarki, budaya yang terlalu meninggikan kaum laki-laki. Lalu apakah perempuan tidak tinggi? Tentu saja saya tidak setuju.

Derajat perempuan tetap setara dengan laki-laki, dan tentu saja pembagian kerja yang perempuan ‘dirumahkan’ itu dianggap bahwa perempuan mampu melakukan pekerjaan rumah. Itu tidak mudah dan itu membutuhkan tenaga ekstra! Tetapi sekarang perempuan menuntut lebih, mereka juga ingin bekerja di publik, tetapi bagaimana pekerjaan mereka di rumah?

Itu yang saya alami sekarang ini. Mungkin saya terlalu sombong untuk melakukan pekerjaan rumah, seperti mengepel, menyapu, cuci piring, mencuci dan lain sebagainya. Justru sebaliknya, saya berusaha mati-matian untuk mencari pekerjaan di publik. Lalu, apakah itu memuaskan?

Kadang saya rindu berada di rumah, mengurus kamar saya yang berantakan. Karena saya sudah tidak punya waktu lagi berada di rumah karena harus turun ke jalan, harus bekerja di publik. Banyak pekerjaan rumah saya yang terbengkalai dan rumah saya jadi acak-acakan (hal ini tidak akan terjadi bagi perempuan sukses dan punya banyak pembantu rumah tangga).

Apakah perempuan sekarang terlalu sombong juga ya untuk bekerja di rumah, sehingga mereka menuntut pekerjaan di luar rumah? (termasuk juga saya).

Saya sendiri masih bingung tentang poin yang akan saya utarakan dalam tulisan saya ini. Terlalu banyak pemintaan, tapi tidak pernah konsekuen (itu juga terjadi dalam diri saya). Misalnya saya masih suka marah-marah ketika saya disuruh memindahkan meja, dan sebaliknya, saya sangat senang jika saya tidak disuruh mengangkat yang berat-berat. Saya kan perempuan!

Akhirnya, selamat seratus tahun hari perempuan internasional. Berteriaklah selagi bisa, tetapi saya pilih melakukan pekerjaan yang saya senangi dan berjuang dengan cara sendiri.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.